Law #3: The Law of the Mind

Law of the Mind menyatakan bahwa lebih baik menjadi yang pertama dalam benak/fikiran (mind) dari pada menjadi yang pertama dalam pasar (marketplace).

Eric Sink (penulis artikel yang saya terjemahkan ini) mengatakan: “Sejujurnya, ini bukan merupakan bab dalam buku ini yang menjadi favorit saya. Konsep mindshare penting, tetapi saya tidak berfikir Ries dan Trout menjadikan point ini sangat jelas.”

Lebih jauh lagi, Eric Sink bahkan menyarankan menghapus saja kata “immutable” dari dalam buku ini. Berikut katanya: “And as long as I’m giving unsolicited advice to marketing legends, let’s remove the word “immutable” from the title of this book, okay? How can laws be immutable5 when there are so many exceptions?” Yah benar, bagaimana bisa dikatakan abadi (immutable) jika ada banyak perkecualian?

Law #1 mengatakan lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik. Law #3 mengatakan bahwa lebih baik menjadi yang pertama hanya jika itu merupakan jalan untuk mencapai significant mindshare.

Tivo akan menjadi contoh yang tepat untuk menjelaskan perkecualian dari kedua hukum diatas. Mereka menjadi yang pertama di dalam pasar. Lagi pula mereka juga memiliki mindshare yang sangat besar. Nama Tivo seperti Kleenex. Lebih lanjut Eric Sink mengatakan: “Even though my digital video recorder is not really a Tivo, I still call it one.” Dengan modal mindshare dan menjadi yang pertama dalam pasar, law #1 dan #3 mengatakan bahwa Tivo seharusnya menjadi dominan dan harus ada dalam waktu yang lama.

Tetapi Tivo akan menjadi pecundang. Hal ini sangat penting untuk memahami hukum pemasaran ini, bahwa mereka tidak immutable.

Catatan:
Artikel ini merupakan terjemahan bebas dari artikelnya Eric Sink dengan judul “Marketing for Geeks: Traditional marketing in the context of a Small Independent Software Vendor - Comments on ‘The 22 Immutable Laws of Marketing’”.

Law #2 The Law of the Category

The Law of the Category menjelaskan bahwa jika Anda tidak bisa menjadi yang pertama di kategori Anda, maka buatlah kategori baru. Bisa dikatakan ini merupakan cara lain untuk menjelaskan konsep “differentiation”. Juga sangat erat dengan konsep “Blue Ocean Stragegy” yang diusung oleh Kim dan Mauborgne yang saat ini sedang ngetren.

Intrepreneur baru biasanya cenderung untuk berfikir idealis/teoritis dalam term ini untuk mencari produk yang lebih baik dibanding produk kompetitor. Tetapi sangat sering terjadi bahwa produk yang berbeda (different) lebih penting dari pada produk yang lebih baik.Dan untuk masing-masing kategori, seseoarang akan menjadi pemimpin (leader). Dengan kata lain market yang besar sebenarnya terdiri dari sekumpulan market kecil. Masuklah ke market yang besar, maka kemungkinan besar Anda akan menjadi pecundang. Masuklah ke market kecil maka Anda kemungkinan akan menjadi pemenang.

Jangan berfikir MacOS adalah nomor dua dalam platform desktop computing. Berfikirlah bahwa MacOS adalah desktop computer nomor satu dalam kategori graphic design. Perbedaan ini menggaris bawahi kategori dimana Apple menjadi nomor satu.

Tetapi ada relatifitas ukuran antara dua kategori yang berbeda. Microsoft saat ini menjadi number one dalam kategori dimana Apple sudah bertahun-tahun menjadi nomber one. Mencari kategori dimana Apple adalah number one bukanlah usaha untuk mengklaim equalitas. Tetapi cukup sederhana dengan menerangkan siapa yang membeli Macintosh dan apa pembeda yang penting untuk mereka.

Poin dari pembuatan kategori adalah memastikan Anda dan pelanggan Anda memahami apa kunci perbedaan Anda. Apa yang membuat Anda berbeda? Untuk siapa perbedaan itu? Dalam benak masyarakat, Anda adalah number one.

law #1: The Law of Leadership

The Law of Leadership menegaskan betapa pentingnya menjadi nomor satu (number one) di masing-masing kategori. Masyarakat biasanya tahu siapa pemain yang menjadi nomor satu ini, tetapi tidak dapat menetapkan dengan pasti siapa yang menjadi nomor dua. Sebagai contoh: Tylenol merupakan brand nomor satu di kategori acetaminophen. Siapa yang menjadi nomor dua?

Ries dan Trout juga menglaim bahwa pemain pertama di kategorinya, biasanya akan menjadi nomor satu. Sebagai contoh Chrysler merupakan minivan pertama dan masih menjadi pemimpin di dunia minivan.

Eric Sink menganggap kesimpulan Ries dan Trout ini terlalu berlebihan, karena banyak sekali kasus dimana bukan yang pertama tetapi menjadi number one di kategorinya. Eric Sink menemukan kasus-kasus berikut di dunia ISV:

  • Microsoft Excel bukan software spreadsheet pertama, tetapi ia saat ini memimpin di kategori tersebut.
  • Visual Studio bukan IDE pertama, tetapi dia memimpin dikategorinya saat ini.

Note: Eric Sink juga mencontohkan Perl, tetapi sepertinya saat ini sudah tidak relevan lagi.

Memang yang dicontohkan Eric Sink tidak salah, tetapi Ries dan Trout tentu saja tidak sembarangan ketika mengambil konsep ini, tentu saja beliau telah merenungkan dengan dalam.

Saya pribadi melihat pemain pertama mempunyai peluang untuk mempunyai brand yang kuat, karena sesuatu yang pertama akan mudah menancap dibenak orang. Tetapi brand sendiri bukanlah kata-kata kosong. Sebuah brand harus dibuktikan, atau dia akan pergi. Selain itu ingatan orang pun ada batasnya. Jadi untuk tetap menjadi lead di kategorinya, maka sebuah produk tetap harus dikomunikasikan dengan baik dan selalu diperbaiki kualitasnya.

Eric Sink sendiri walau sedikit mengkritik Ries dan Trout, tetapi tetap mendukung konsep ini. Berikut kesimpulannya: “Anyway, the main point remains: There is a huge benefit to being number one in some category, even if you have to invent a whole new category.”

The 22 Immutable Laws of Marketing on Independent Software Vendor

Selain mendalami bidang teknologi informasi, saya juga sangat tertarik dengan dunia marketing. Marketing dalam arti strategi, bukan sales. Sungguh filosofi-filosofi dalam dunia marketing banyak yang menarik hati saya. Strategi-strategi yang dimainkan bak main catur saja, menegangkan tapi juga menyenangkan.

Salah satu buku penting yang layak dimiliki seorang marketing, atau paling tidak insan IT yang ingin menjadi interpreneur, adalah buku dengan judul “The 22 Immutable Laws of Marketing” karangannya Al Ries dan Jack Trout. Buku ini mengulas 22 pilar utama dalam dunia marketing sesuai yang dirumuskan oleh pengarangnya.

Nah, Insya Allah, saya akan memulis ringkasan tentang kk-22 Laws dalam blog saya ini secara berkala. Artikel yang saya tulis nanti merupakan terjemahan bebas dari artikelnya Eric Sink yang ada di http://software.ericsink.com/. Saya memilih artikelnya Eric Sink karena beliau mengulas ke-22 Laws ini dalam kerangka perusahaan ISV (Independent Software Vendor). Ini judul aslinya: “Marketing for Geeks: Traditional marketing in the context of a Small Independent Software Vendor”. Tentu saja, kadang, saya juga menambahi dengan opini-opini saya sendiri atau bahkan ada bagian-bagian yang saya potong. Secara teknis, setiap Laws nanti akan saya tulis sebagai satu posting-an.

Selamat menikmati dunia marketing pren :)