Mengajari Entrepreneur pada Anak TK Kecil

Dear pengunjung,

Beberapa hari yang lalu anak sulung saya - Aqila - bercerita, “Bi, nanti di sekolah mau buat es lilin. Besuk mau dijual.” Saya mengiyakan saja. Hari berikutnya anak saya bercerita kembali, “Bi, tadi saya jualan es lilin, ada yang beli.” (Kata-katanya mungkin nggak persis, tetapi itulah maksudnya). Wow, anak saya sudah diajari menjadi entrepreneur!

Anda tahu kira-kira anak saya kelas berapa? Ya betul, anak saya baru TK kecil (Anda melihat judul kan, hayo ngaku?). Dia sekolah di Sekolah Alam Ar-Ridho. Ar-Ridho memang berbeda dengan sekolah yang lain, ia menerapkan konsep multiple inteligent, dimana setiap anak dianggap memiliki kecerdasan sesuai bakat dan minatnya. Anak-anak juga tidak difokuskan terlalu banyak menghafal, tetapi lebih ditekankan menganalisa keadaan.

Teman, saya jadi ingat ke masa kecil. Mungkin Anda masih ingat apa kira-kira yang diajarkan kepada kita sewaktu kecil dulu? Orang tua kita ngendika, “Sekolahlah yang pintar ya, nanti biar mendapat pekerjaan yang baik.”. Di sekolah kita juga diajari membaca, “Ini ibu Budi. Ibu Budi pergi ke pasar membeli sayur.” Yah, sejak kecil kita diajari untuk menjadi karyawan (pengikut) dan konsumen. Konon hal ini memang doktrin warisan kolonial.

Saya bersyukur anak saya mendapat pendidikan yang, insyaAllah, lebih baik. Saat ini kita memang harus bisa mandiri dan kuat dalam perekonomian. Dan cara yang terbaik adalah menjadi pengusaha. 14 abat yang lalu Rosulallah bersabda, “9 bagian dari pintu rizki adalah perniagaan.”

Doakan ya saya dan anak-anak saya bisa menjadi pengusaha sukses. Amin

Agus Suhartono