law #1: The Law of Leadership

The Law of Leadership menegaskan betapa pentingnya menjadi nomor satu (number one) di masing-masing kategori. Masyarakat biasanya tahu siapa pemain yang menjadi nomor satu ini, tetapi tidak dapat menetapkan dengan pasti siapa yang menjadi nomor dua. Sebagai contoh: Tylenol merupakan brand nomor satu di kategori acetaminophen. Siapa yang menjadi nomor dua?

Ries dan Trout juga menglaim bahwa pemain pertama di kategorinya, biasanya akan menjadi nomor satu. Sebagai contoh Chrysler merupakan minivan pertama dan masih menjadi pemimpin di dunia minivan.

Eric Sink menganggap kesimpulan Ries dan Trout ini terlalu berlebihan, karena banyak sekali kasus dimana bukan yang pertama tetapi menjadi number one di kategorinya. Eric Sink menemukan kasus-kasus berikut di dunia ISV:

  • Microsoft Excel bukan software spreadsheet pertama, tetapi ia saat ini memimpin di kategori tersebut.
  • Visual Studio bukan IDE pertama, tetapi dia memimpin dikategorinya saat ini.

Note: Eric Sink juga mencontohkan Perl, tetapi sepertinya saat ini sudah tidak relevan lagi.

Memang yang dicontohkan Eric Sink tidak salah, tetapi Ries dan Trout tentu saja tidak sembarangan ketika mengambil konsep ini, tentu saja beliau telah merenungkan dengan dalam.

Saya pribadi melihat pemain pertama mempunyai peluang untuk mempunyai brand yang kuat, karena sesuatu yang pertama akan mudah menancap dibenak orang. Tetapi brand sendiri bukanlah kata-kata kosong. Sebuah brand harus dibuktikan, atau dia akan pergi. Selain itu ingatan orang pun ada batasnya. Jadi untuk tetap menjadi lead di kategorinya, maka sebuah produk tetap harus dikomunikasikan dengan baik dan selalu diperbaiki kualitasnya.

Eric Sink sendiri walau sedikit mengkritik Ries dan Trout, tetapi tetap mendukung konsep ini. Berikut kesimpulannya: “Anyway, the main point remains: There is a huge benefit to being number one in some category, even if you have to invent a whole new category.”


Leave a Reply